Minggu, 27 Mei 2012

Konsep Konsumsi Pangan dan Gizi



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Pangan dan gizi, adalah sesuatu gabungan kata yang sulit dipisahkan, karena berbicara gizi haruslah menyangkut pangan dan bahan makanan, dan ini tidak berarti bahwa bahan pangan yang tidak bergizi menjadi menjadi tidak penting artinya. Peningkatan produksi pangan haruslah dikaitkan dengan program kecukupan pangan dan gizi, bukan saja untuk memenuhi kecukupan nasional tetapi juga bagi seluruh golongan rawan pangan dan gizi di Indonesia. Masalah ini perlu mendapat perhatian dan diharapkan ada pemikiran mengenai bagaimana cara pemerataan pangan dan gizi.
Pengetahuan masyarakat tentang pemilihan makanan yang baik untuk mencapai hidup yang sehat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, ekonomi, sosial, budaya, kondisi kesehatan dan lain sebagainya. Pendidikan gizi memrupakan salah satu unsur penting dalam meningkatkan status gizi masyarakat untuk jangka panjang. Melalui sosialisasi dan penyampaian pesan gizi yang praktis akan membentuk suatau kesimbangan bangsa antara gaya hidup dengan pola konsumsi masyarakat. Pengembangan pedoman gizi seimbang baik untuk petugas maupun masyarakat adalah salah satu strategi dalam pencapaian perubahan maupun masyarakat adalah salah satu strategi dalam mencapai perubahan pola konsumsi makanan yang ada di masyarakat dengan tujuan akhir yaitu tercapainya status gizi masyarakat yang baik.
Tercukupnya pangan merupakan faktor utama bagi kehidupan. Karena manusia tidak bisa bertahan hidup jikalau sudah tidak ada makanan. Bukan hanya tercukupnya pangan saja, tetapi gizi yang terkandung dalam pangan tersebut harus diperhatikan, agar orang yang mengkonsumsinya dapat memperoleh kecukupan gizi yang semestinya.
Dalam mengonsumsi makanan, yang pertama harus dilakukan memperhatikan kecukupan gizi yang akan diterima dalam tubuh. Oleh karena itu, sebelum pangan menjadi gizi, kita harus memperhatikan berbagai hal yang berhubungan mengenai makanan tersebut, yaitu mutu gizi yang ada dalam makanan, kondisi fisiknya, harga dari makanan tersebut, serta ketersediaan dan ketahanan pangan. 

1.2 Tujuan
1.      Untuk mengetahui fungsi pangan dan gizi.
2.      Untuk mengetahui tentang konsumsi panga dan gizi.
3.      Untuk mengetahui faktor apa yang dapat mempengaruhi masalah gizi di masyarakat.

1.3 Manfaat
Manfaat dari makalah ini, adalah untuk memberikan kita pengetahuan tentang konsumsi pangan dan gizi dan berharap bagi pembaca untuk selalu memperhatikan gizi yang terkandung dalam setiap pangan. Karena tercukupnya pangan bukan berarti gizi yang diperlukan telah tercukupi.

BAB II
ISI
2.1  Pengertian
2.1.1 Pangan
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman ( UU RI No. 7 th.1996 tentang Pangan ).

2.1.2 Gizi
Gizi berasal dari bahasa arab “Al Gizzai” yang artinya makanan dan manfaat untuk kesehatan. Al Gizzai juga dapat diartikan sari makanan yang bermanfaat untuk untuk kesehatan. Untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup, setiap orang memerlukan 6 kelompok zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air) dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan.

2.2    Fungsi Pangan dan Gizi
2.2.1.   Fungsi Pangan
Dalam kehidupan modern ini, filosofi makan telah mengalami pergeseran, di mana makan bukanlah sekadar untuk kenyang, tetapi yang lebih utama adalah untuk mencapai tingkat kesehatan dan kebugaran yang optimal.
Fungsi pangan yang utama bagi manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan bobot tubuh. Fungsi pangan yang demikian dikenal dengan istilah fungsi primer (primary function).Selain memiliki fungsi primer, bahan pangan sebaiknya juga memenuhi fungsi sekunder (secondary function), yaitu memiliki penampakan dan cita rasa yang baik. Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser.
Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Fungsi yang demikian dikenal sebagai fungsi tertier (tertiary function). Saat ini banyak dipopulerkan bahan pangan yang mempunyai fungsi fisiologis tertentu di dalam tubuh, misalnya untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan penyerapan kalsium, dan lain-lain. Dasar pertimbangan konsumen di negara-negara maju dalam memilih bahan pangan, bukan hanya bertumpu pada kandungan gizi dan kelezatannya, tetapi juga pengaruhnya terhadap kesehatan tubuhnya. Saat ini pangan telah diandalkan sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh.

2.2.2.   Fungsi Gizi
Ada enam macam zat gizi yang kita kenal yaitu : karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Dalam tubuh, makanan yang kita makan akan diurai menjadi zat gizi, zat gizi ini kemudian akan diserap oleh tubuh untuk menjalankan fungsinya masing-masing. Fungsi zat gizi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1.  Zat penghasil energi atau tenaga
2.  Zat pembangun dan pemelihara sel dan jaringan tubuh
3.  Zat pengatur proses tubuh
Zat penghasil energi atau disebut juga zat tenaga adalah fungsi zat gizi yang pertama. Zat gizi dalam makanan yang menjadi sumber energi disebut zat energi, yaitu meliputi karbohidrat, lemak, dan protein. Zat gizi penghasil energi ini sebagian besar dihasilkan oleh bahan makanan pokok yaitu seperti nasi, roti, kentang dsb.
Fungsi zat gizi yang kedua, yaitu sebagai zat pembangun dan pemelihara sel dan jaringan tubuh atau disebut juga zat pembangun. Zat gizi yang berperan disini adalah protein dan mineral. Protein dan mineral diperlukan untuk membangun sel-sel baru, memelihara dan mengganti sel-sel yang telah rusak.
Jenis makanan penghasil zat pembangun adalah ikan, telur, susu, kacang-kacangan dll. Manfaatnya untuk memperbaharui sel-sel tubuh yang rusak dan digantikan dengan yang baru.
Fungsi zat gizi yang terakhir, yaitu sebagai pengatur proses dalam tubuh atau disebut juga zat pengatur. Zat gizi yang berperan dalam proses pengaturan tubuh adalah protein, vitamin, mineral dan air. Makanan penghasil zat pengatur ialah sayuran dan buah-buahan.
Nilai yang sangat penting dari bahan makanan atau zat makanan bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik serta perolehan energi guna melakukan kegiatan sehari-hari seperti seperti yang dikemukakan di atas tergantung dari keadaan dan macam-macam bahan makanannya. Namun demikian, apabila bahan-bahan makanan itu :
a.       Tersaji dalam keadaan cukup higienis (tidak mengandung kuman-kuman penyakit, tidak mengandung zat-zat toksin/racun yang dapat membahayakan kelangsungan hidup seseorang):
b.      Cukup mengandung kalori, protein (dengan memiliki ke sepuluh asam amino esensial, cukup mengandung lemak, cukup mengandung vitamin dan mineral);
c.       Dapat mudah tercerna oleh alat-alat pencernaan;
d.      Pengolahan atau pemasakannnya desesuaikan dengan sifat fisis dan kimia dari masing-masing bahan makanan;
e.       Dihidangkan dalam keadaan yang tepat dan baik, artinya dalam suhu yang tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah;

Maka nilainya bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik serta perolehan energi guna melakukan kegiatan sehari-hari adalah cukup tinggi. Kenyataanya hal diatas sering kurang diperhatikan sehingga tidak jarang kita akan berhadapan dengan manusia-manusia atau bahkan kita akan merasakan sendiri :
a.       Pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang kurang normal, banyak keluhan karena berbagai penderitaan yang berkaitan dengan kesegaran fisik :
b.      Kelesuan, tidak bergairah melakukan kegiatan sehari-hari, dan lain-lain.

Kenyataan  bahwa hingga sekarang banyak diantara penduduk Indonesia yang enggan mengkonsumsi beberapa bahan makanan tertentu, baik karena pantangan turun temurun yang salah diwariskan oleh leluhurnya, maupun karena gaya hidup mewah sehari-hari yang di praktekkannya, padahal bahan makanan tersebut terkenal bergizi yang telah dianjurkan oleh pemerintah. Makanan yang  bergizi tidak selalu makanan yang mahal, mewah bahkan dalam banyak bukti makanan yang dimiliki kurang bergizi. Bahan makanan yang mudah diperoleh dan harganyapun cukup terjangkau oleh mereka yang berpengasilan rendah banyak yang bergizi dan bahan-bahan makanan yang dimiliki perlu mendapat perhatian untuk dikonsumsi dengan sebaik-baiknya. Selera dan gairah dan memakannya tergantung dari kepandaian pengolahan dan ketepatan waktu penyajiannya.

2.3 Zat-Zat Gizi
Zat gizi (nutrients) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan. Adapun zat-zat gizi yang diperlukan yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.

2.3.1 Karbohidrat
Karbohidrat merupakan zat gizi utama sebagai sumber energi bagi tubuh. Terpenuhinya kebutuhan tubuh akan karbohidrat akan menentukan jumlah energi yang tersedia bagi tubuh setiap hari.
a. Fungsi
Fungsi karbohidrat dalam tubuh antara lain :
a.       Sebagai sumber energi
b.      Pemberi rasa manis pada makanan
c.       Penghemat protein
d.      Pengatur metabolisme lemak
e.       Membantu pengeluaran feses
b. Sumber
Sumber karbohidrat  adalah padi-padian atau serealia, umbi-umbian, kacang-kacang kering, dan gula. Hasil oleh bahan-bahan ini adalah bihun, mie, roti, tepung-tepungan, selai, sirup, dan sebagainya. Sebagian besar sayur dan buah tidak banyak mengandung karbohidrat. Sayur umbi-umbian, seperti wortel serta sayur kacang-kacangan relatif lebih banyak mengandung karbohidrat daripada sayur daun-daunan. Bahan makanan hewani seperti daging, ayam, ikan, telur dan susu sedikit sekali mengandung karbohidrat. Sumber karbohidat yang banyak dimakan sebagai makanan pokok di Indonesia adalah beras, jagung, ubi, singkong, talas dan sagu.
c.       Kebutuhan sehari
Bila tidak ada karbohidrat asam amino dan gliserol yang berasal dari lemak dapat diubah menjadi glukosa untuk keperluan energi otak dan sistem saraf pusat. Oleh sebab itu, tidak ada ketentuan tentang kebutuhan karbohidrat sehari untuk manusia. Untuk memelihara kesehatan, WHO (1990) menganjurkan agar 50-65% konsumsi energi total berasal dari karbohidrat komplek dan paling banyak hanya 10% dari gula sederhana. Rata-rata konsumsi energi berasal dari karbohidrat penduduk Indonesia menurut biro pusat statistik tahun 1990 adalah sebesar 72%. Demikian pula tidak ada anjuran kebutuhan sehari secara khusus untuk serat makanan. Lembaga kanker Amerika menganjurkan makan 20-30 gram serat dalam sehari.

2.3.2 Lipida atau Lemak
Lipida atau lemak adalah senyawa kimia yang dalam struktur molekulnya mengandung gugus asam lemak. Lemak merupakan simpanan energi bagi manusia dan hewan.
a.    Fungsi
Lemak mempunyai fungsi yang cukup banyak, lemak dalam bahan pangan berfungsi sebagai :
-          Sumber energi, dimana tiap gram lemak menghasilkan sekitar 9-9.3 kkal/g.
-          Menghemat protein dan tiamin
-          Membuat rasa kenyag lebih lama, sehubungan dengan dicernanya lemak lebih lama.
-          Pemberi cita rasa dan keharuman yang lebih baik
-          Memberi zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh.
Sedangkan fungsi lemak dalam tubuh adalah sebagai berikut :
-          Sebagai pembangun/pembentuk susunan tubuh
-          Pelindung kehilangan panas tubuh
-          Sebagai penghasil asam lemak esensial
-          Sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K
-          Sebagai pelumas diantara persendian
-          Sebagai agen pengemulsi yag akan mempermudah transpor substansi lemak keluar masuk melalui membran sel
-          Sebagai prekursor dari protaglandin yang berperan mengatur tekanan darah, denyut jantung dan lipolisis.
b.    Sumber
Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan (minyak kelapa kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung dan sebagainya), mentega margarin, dan lemak hewan (lemak daging dan ayam). Sumber lemak lain adalah kacang-kacangan, biji-bijian, krim, susu, keju dan kuning telur, serta makanan yang dimasak dengan lemak atau minyak. Sayur dan buah (kecuali alpukat).
c.    Kebutuhan
Kebutuhan lemak tidak dinyatakan secara mutlak. WHO (1990) menganjurkan konsumsi lemak sebanyak 15-30% kebutuhan energi total dianggap baik untuk kesehatan. Jumlah ini memenuhi kebutuha akan asam lemak esensial dan untuk membantu penyerapan vitamin larut lemak. Diantara lemak yang dikonsumsi sehari dianjurkan paling banyak 10% dari kebutuhan energi total berasal dari lemak jenuh dan 3-7% dari lemak tidak jenuh ganda.

2.3.3  Protein
Protein merupakan zat gizi yang paling banyak terdapat dalam tubuh. Protein merupakan bagian dari semua sel-sel hidup. Seperlima dari berat tubuh orang dewasa merupakan protein. Protein merupakan bahan utama dalam penbentukan sel jaringan, baik jaringan tubuh tumbuh-tumbuhan maupun tubuh manusia dan hewan. Karena itu protein disebut unsur pembangun.
a.     Fungsi
Protein mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :
-          Membentuk jaringan baru dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh
-          Memelihara jaringan tubuh, serta memperbaiki serta menganti jaringan yang rusak atau mati
-          Menyediakan asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolisme serta antibodi yang diperlukan.
-          Mengatur keseimbangan air yang terdapat dalam tiga kompartemen yaitu intraseluler, ekstraseluler dan intravaskuler
-          Mempertahankan kenetralan (asam-basa) tubuh.
b.     Sumber
Bahan-bahan makanan sumber protein dapat digolongkan kedalam 2 golongan yaitu sebagai berikut :
-          Bahan-bahan makanan sumber protein yang berasal dari hewan, misalnya jenis daging (daging sapi, daging kambing, daging babi, daging ayam dan bagian-bagian dari tubuh hewan itu), jenis ikan, telur dan susu.
-          Bahan-bahan makanan sumber protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya beras, jenis kacang-kacangan (kedelai, kacang ijo, kacang tanah). Sebagian kecil protein terdapat dalam sayuran dan buah-buahan.
c.    Kebutuhan
Kebutuhan protein menurut FAO/WHO/UNU (1985) adalah konsumsi yang diperlukan untuk mencegah kehilangan protein tubuh dan memungkinkan produksi protein yang diperlukan dalam masa pertumbuhan, kehamilan, atau menyusui. Angka kecukupan protein orang dewasa menurut hasil penelitian keseimbangan nitrogen adalah 0,75 gr/kg berat badan, berupa protein patokan tinggi yaitu protein telur. WHO (1990) menyatakan protein sebanyak 10-20% kebutuhan energi total dianggap baik untuk kesehatan.

2.3.4  Vitamin
Vitamin adalah zat organik yang tidak dapat dibuat oleh tubuh tetapi di perlukan tubuh untuk dapat berlangsungnya berbagai reaksi faal dan biokimia dalam tubuh. Vitamin juga merupakan suatu komponen kimia organik yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk menunjang proses pertumbuhan dan pemeliharaan sel.
            Vitamin berperan sebagai katalisator organik, mengatur proses metabolisme dan fungsi normal tubuh. Di tubuh vitamin mempunyai peran utama sebagai zat pengatur dan pembangun bersama zat gizi lain melalui pembentukkan enzim, antibody dan hormon. Masing-masing vitamin mempunyai peranan khusus yang tidak dapat digantikan oleh vitamin dan zat gizi lain. Oleh karena itu, meskipun dibutuhkan dalam jumlah sedikit dalam satuan miligram atau mikrogram, jumlah kecil itu sangat penting. Berdasarkan sifat kelarutannya, vitamin dikelompokkan menjadi dua yaitu vitamin lerut lemak (Vit A, D, E, dan K), dan vitamin larut air (Vitamin C, B kompleks, dan biotin)

2.3.5  Mineral
Kira-kira 6% tubuh manusia dewasa terbut dari mineral. Mineral yang dibutuhkan oleh manusia diperoleh dari tanah. Mineral merupakan bahan organik dan bersifat esensial. Jika mineral tidak habis digunakan oleh manusia maka akan dikeluarkan oleh tubuh dan dikembalikan pada tanah.
a.      Fungsi
Secara umum fungsi mineral di dalam tubuh sebagai berikut:
-          Memelihara keseimbangan asam tubuh dengan jalan penggunaan mineral pembentuk asam (klorin, fosfor, belerang) dan pembentuk basa (kapur, besi, magnesium, kalium, natrium)
-          Mengkatalisasi reaksi yang bertalian dengan pemecahan karbohidrat, lemak, dan protein serta pembentukan lemak dan protein tubuh.
-          Sebagai hormon (iodium terlibat dalam hormon tiroksin: CO dalam vitamin B12; Ca dan P untuk membentuk tulang dan gigi) dan enzim tubuh (Fe terlibat dalam aktivitas enzim katalase dan sitokrom).
-          Membantu memelihara keseimbangan air tubuh (klorin, kalium, natrium).
-          Menolong dalam pengiriman isyarat keseluruh tubuh (Kalsium, Kalium, Natrium)
-          Sebagai bagian cairan usus (Kalsium, Magnesium, Kalium, dan Natrium)
-          Berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan tulang, gigi dan jaringan tubuh lainnya (Kalsium, Fofor, Fluorin)

b.      Sumber
Mineral berasal dari bawah tanah. Tanaman yang ditanam di atas tanah akan menyerap mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kemudian disimpan dalam akar, batang, daun, bunga, dan buah. Hewan makan tanaman dan akan menyimpan mineral dalam tubuhnya. Mannusia memperoleh mineral melalui konsumsi pangan nabati maupun hewani.
c.       Kebutuhan
Mineral makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh lebih dari 100 mg sehari. Sedangkan mineral mikro dibutuhkan kurang dari 100 mg sehari.

2.3.6  Air
Air atau cairan tubuh merupakan bagian utama tubuh, yaitu 55-60% badan pada orang dewasa atau 70% dari bagian tubuh tanpa lemak. Kandungan air bayi pada waktu lahir adalah 75 berat badan, sedangkan pada usia tua menjadi 50% .
Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, yaitu sebagai pelarut dan alat angkut, katalisator, fasilitator pertumbuhan, pengatur suhu dan peredam benturan.

2.4 Konsumsi Pangan dan Gizi
Konsumsi pangan rata-rata penduduk setiap jiwa dalam satu hari digambarkan dalam bentuk Neraca Bahan Makanan. Neraca Bahan Makanan tahun 1976 menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi pendu­duk Indonesia telah mencapai 2.231 Kalori dan 43,7 gram protein per jiwa per hari. Besarnya kalori tersebut menggambarkan jumlah tenaga yang dihasilkan oleh makanan untuk kegiatan jasmaniah sehari-hari. Sedangkan jumlah protein menggambarkan kandungan zat untuk per­tumbuhan badan dan perkembangan kecerdasan.
Ditinjau dari kebutuhan rata-rata kalori dan protein penduduk Indo­nesia sebesar 2.100 Kalori dan 46 gram protein per jiwa per hari maka nampak bahwa rata-rata keperluan kalori telah terpenuhi dan kebu­-tuhan protein hampir tercapai. Akan tetapi pola konsumsi di sementara daerah dan kelompok masyarakat masih menunjukkan kekurangan kalori dan protein.

Pada umumnya sebagian besar dari pendapatan penduduk Indonesia masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Lagi pula sebagian besar penduduk Indonesia terdiri dari petani-petani produ­sen pangan. Karena kedua hal itu maka setiap perubahan harga pangan akan mempunyai pengaruh terhadap tingkat kesejahteraan ma­syarakat. Gejolak harga pangan akan menimbulkan kerisauan pada sebagian besar masyarakat, baik di kota maupun di pedesaan, dan peningkatan harga yang tidak terkendalikan akan dapat menimbulkan gangguan terhadap kelancaran kegiatan pembangunan. Jadi jelaslah bahwa pangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka usaha tercapainya sasaran-sasaran pembangunan.
Usaha mencukupi kebutuhan pangan dan gizi memerlukan langkah-­langkah yang menyeluruh dan merupakan bagian dari kebulatan kebi­jaksanaan dan langkah pembangunan nasional. Oleh karena itu penanganannya memerlukan usaha terpadu dari berbagai bidang terutama bidang kesehatan, pertanian, industri, pendidikan, penerangan, perdagangan, kependudukan dan lingkungan hidup.
Secara alami, komposisi zat gizi setiap jenis makanan memiliki keunggulan dan kelemahan tertentu. Bebarapa makanan mengandung tinggi karbohidrat tetapi kurang vitamin dan mineral. Sedangkan bebarapa makanan lain kaya vitamin C tetapi kurang vitamin A. Apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beranekaragam, maka akan timbul ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif.
Setiap orang yang hidup peduli dengan pangan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Pangan mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh unuk memperoleh energi guna mempelihara kelangsungan proses-proses di dalam tubuh, untuk tumbuh dan berkembang, serta untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Energi tersebut diperoleh dari hasil pembakaran (oksidasi) karbohidrat, lemak dan protein di dalam tubuh, serta vitamin,air dan mineral.

2.4.1 Keragaman Pangan
Sekarang pola konsumsi pangan masih sangat mengutama­kan beras. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pola konsumsi pangan rakyat, dan dengan demikian keadaan perekonomian sebagai keseluruhan, sangat tergantung pada satu jenis pangan. Pola konsumsi pangan yang terlalu tergantung pada satu jenis pangan dapat menimbul­kan beberapa masalah. Pertama, keadaan pangan akan selalu rawan karena apabila terjadi kekurangan dalam jenis pangan ini akan timbul kerisauan di dalam masyarakat. Lagi pula dalam keadaan masih diperlukan impor, kemampuan negara untuk mencukupinya akan sangat tergantung dari persediaan beras di sementara Negara pengekspor  beras. Kedua, pola konsumsi pangan yang mengutamakan satu jenis pangan tidak dapat menjamin keseimbangan gizi yang memadai. Ini berarti bahwa untuk meningkatkan mutu gizi, pola konsumsi pangan memerlukan penganekaragaman.
Berbagai jenis bahan pangan yang ada di alam, baik yang berasal dari tanaman yang disebut dengan bahan pangan nabati maupun yang berasal dari hewan yang dikenal sebagai bahan pangan hewani, ada yang kaya akan satu jenis zat gizi, sebaliknya ada pula yang miskin akan zat gizi. Umumnya tidak ada satu bahan pangan yang lengkap mengandung semua zat gizi dalam jumlah yang mencukupi keperluan tubuh, kecuali air susu ibu (ASI) untuk bayi.
Zat-zat gizi menyediakan kebutuhan sel-sel tubuh yang beraneka-ragam. Sebagai mesin hidup, sel memerlukan energi, bahan-bahan pembangun dan bahan-bahan untuk memperbaiki atau mengganti bagian-bagian yang rusak. Setiap jenis sel mempunyai kebutuhan yang berbeda. Sebagai contoh, sel-sel otot menghasilkan serat-serat otot dan oleh karena itu memerlukan protein. Setelah mengejarkan tugasnya, sel akan rusak dan perlu diganti; sebagai contoh, sel darah merah diganti setiap enam minggu.
Oleh karena itu, manusia memerlukan berbagai macam bahan pangan untuk menjamin agar semua zat gizi yang diperlukan tubuh dapat terpenuhi dalam jumlah yang cukup.
Dengan mengkonsumsi makanan sehari-hari yang beranekaragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang.



2.4.2  Keamanan Pangan
Pangan sehat adalah merupakan makanan yang aman dikonsumsi, yakni tidak tercemar unsur-unsur kimia dan logam berat yang membahayakan tubuh. Selain itu, makanan tersebut tidak mendapat zat tambahan yang dapat mengganggu seperti zat pewarna dan perasa buatan (monosodium glutamat).
Keamanan pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya perhatian teradap hal ini, telah sering mengakibatkan tejadinya dampak berupa penurunan kesehatan konsumennya, mulai dari keracunan makanan akibat tidak higienisnya proses penyiapan dan penyajian sampai risiko munculnya penyakit kanker akibat penggunaan bahan tambahan.
Beberapa masalah  keamanan pangan meliputi beberapa hal diantaranya :
1.       Masih ditemukannya produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan, misalnya penggunaan bahan tambahan yang dilarang, cemaran kimia berbahaya, cemaran patogen, rnasa kadaluwarsa dan sebagainya.
2.       Masih banyaknya tejadi kasus keracunan karena makanan yang sebagian besar belum dilaporkan dan belum diidentifikasi penyebabnya.
3.       Masih rendahnya pengetahuan, keterampilan dan tanggungjawab produsen pangan tentang mutu dan keamanan pangan, terutama pada industri kecil atau industri rumahtangga.
4.              Masih rendahnya kepedulian konsumen tentang mutu dan keamanan pangan karena terbatasnya.

Untuk itu, keamanan dari pangan yang akan dikonsumsi harus diperhatikan, supaya tidak akan terjadi keracunan dalam tubuh yang mengakibatkan terhambatnya proses-proses metabolisme yang bekerja di dalam tubuh.

2.4.3  Mutu Gizi
Pangan yang sebaiknya dikonsumsi oleh individu, keluarga dan masyarakat adalah pangan yang dari segi kualitas fisik yang baik dan tidak tercemar oleh bahan-bahan kimia.
Kualitas pangan yang kurang baik di Indonesia dikarenakan organisasi-organisasi yang terkait seperti BPOM dan MENKES  tidak bekerja semestinya. Selain itu dimana dalam pendistribusian pangan memakan waktu yang lama dan dari distributor 1 kedistributor yang lain. Sehingga kualitas pangan menurun baik dari fisik (kesegaran pangan) maupun kandungan gizi yang ada didalam pangan. Di lain sisi tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kualitas pangan yang baik juga masih kurang. Padahal, kualitas pangan tersebut sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia baik secara fisik dan kecerdasan.

2.4.4  Konsumsi pangan individu
Setiap individu memerlukan proporsi asupan gizi yang bervariasi sesuai dengan berat badan, tinggi badan dan aktivitas sehari-hari.
Hanya tiga macam zat gizi yang berfungsi sebagai sumber energy bagi tubuh, yaitu karbohidrat (pati, gula), protein dan lemak. Di dalam tubuh, karbohidrat, lemak dan protein, akan dioksidasi dalam sel dengan bantuan enzim, ko-enzim (misalnya vitamin) dan hormon. Prosesnya memerlukan oksigen dan hasil yang diperoleh berupa karbon dioksida, air dan energi.
AKG adalah jumlah zat-zat gizi yang hendaknya dikonsumsi setiap hari untuk jangka waktu tertentu sebagai bagian dari diet normal rata-rata orang sehat. Oleh sebab itu, perlu dipertimbangkan setiap faktor yang berpengaruh terhadap absorbsi zat-zat gizi yang efisiensi penggunaanya di dalam tubuh. Untuk sebagian zat gizi, sebagian dari kebutuhan mungkin dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi suatu zat yang di dalam tubuh kemudian dapat diubah menjadi zat gizi esensial.
Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada individu terlampir pada halaman 23.

2.4.5  Konsumsi pangan keluarga
Makanan keluarga adalah makanan yang dihidangkan dalam suatu keluarga dari hari ke hari. Lengkap tidaknya susunan makanan keluarga ini banyak tergatung pada kemampua keluarga itu sendiri untuk menyusun makanan, kemempuan untuk mendapatkan bahan-bahan makanan yang diperlukan, adat kebiasaan, dan sedikit banyak pengetahuan dalam hal menyusun makanannya.
Susunan makanan yang dihidangkan untuk keluarga dari hari ke hari lazimnya disebut menu makanan. Jadi menu ialah kumpulan beberapa macam makanan atau masakan yang disajikan untuk setiap kali makan. Menu yang sederhana hanya terdiri dari makanan pokok, dan sedikit lauk pauk, misalnya nasi dengan sayur. Menu yang lengkap, akan terdiri dari: nasi, sayur, sebagai pembantu untuk membasahi nasi yang umumnya dibuat dari sayuran, kemudian lauk yang berupa ikan atau daging, serta buah-buahan pencuci mulut. Menu yang disusun sedimikian itu sudah cukup memenuhi syarat. Ini adalah menu untuk sekali makan.
Menu untuk 1 hari, akan terdiri dari hidangan berupa makan pagi, makan siang, makan malam, dan kadang-kadang kita makan juga makanan selingan. Menu sedemikian itu lazim digunakan pada keluarga-keluarga di kota. Di pedesaan, biasanya keluarga-keluarga itu hanya makan dua kali sehari, yaitu makan pagi dan makan sore. Perbedaan ini ada, karena umuumnya petani-petani berangkat ke sawah, atau ke kebunnya, pagi-pagi sekali dan baru kembali sore harinya.
Konsumsi pangan keluarga adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya. Pola pengasuhan adalah kemampuan keluarga untuk menyediakan waktunya, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, dan sosial, yang dalam kenyataannya pengaplikasian pemenuhan pangan masih diutamakan untuk ayah, yang persepsinya dimana ayah itu sebagai pencari nafkah dalam keluarga yang membutuhkan banyak energi/kalori. Persepsi yang demikian merupakan persepsi yang keliru, dimana seharusnya yang paling diutamakan adalah kecukupan gizi pada anak terutama balita, dikarenakan anak dan balita masih dalam proses pertumbuhan.

2.4.6  Konsumsi pangan masyarakat
Pemenuhan gizi yang cukup juga harus diperoleh seluruh masyarakat yang berekonomi rendah, menengah sampai yang berekonomi tinggi. Karena dengan gizi yang cukup pada masyarakat dapat meningkatkan produktivitas kerja yang berpengaruh terhadap perekonomian Negara.

2.5  Status gizi di masyarakat
Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif. Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam  pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien.

2.5.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
·         Faktor External
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
a.       Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut
b.      Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik
c.       Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang  menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga
d.      Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan
·         Faktor Internal
Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :
a.       Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita
b.      Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat
c.       Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan.
Jumlah dan tingkat mutu makanan yang di konsumsi oleh suatu kelompok sosial budaya dipengaruhi oleh banyak hal yang saling kait-mengkait sehingga menimbulkan masalah. Untuk memecahkan masalah pangan diperlukan usaha yang terpadu dan terkoordinasi, kerjasama antar kelompok masyarakat dan pemerintah secara nasional dan pengaruhi pola konsumsi makanan.
Kekurangan pangan dan gizi menurut Ohkawa dan Takamatsu sangat mempengaruhi prestasi kerja dan berpikir dari generasi yang sekarang maupun yang akan datang. Akibat dari kekuranga pangan tersebut secara lahiriah dapat ditunjukkan dengan rendahnya daya produksi dan kegiatan ekonomi penduduk, banyaknya serangan penyakit dan kematian.
Aspek psikologis akan banyak mempengaruhi untuk dapat memilih bahan makanan secara bijaksana sesuai dengan tingkat ekonomi masing-masing da pemanfaatan jenis bahan makanan bermutu yang ada di sekelilingnya. Suatu tingkat kesadaran dan pengetahuan gizi yang mencukupi diperlukan oleh masyarakat. Untuk kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah, pengetahuan gizi dasar dan keterampilan memilih bahan makanan murah namun cukup bermutu dan bagaimana mengkombinasikan bahan-bahan tersebut sehingga dapat mencapai nilai gizi yang optimum sangat diperlukan. Untuk kelompok masyarakat yang berpendapatan cukup tinggi, pengetahuan gizi juga mutlak diperlukan untuk mencegah kurang gizi karena salah pilih atau penggunaan yang berlebihan dari salah satu zat gizi yang digemari.



2.5.2  Masalah status gizi
a.      Gizi kurang
Kekurangan Gizi (Malnutrisi) merupakan penyebab kematian dan kesakitan pada anak-anak. Kekurangan gizi bisa disebabkan oleh kurangnya asupan gizi atau ketidakmampuan tubuh untuk menyerap atau memetabolisir zat gizi. Kekurangan gizi bisa terjadi ketika kebutuhan akan zat-zat gizi yang penting meningkat, misalnya pada saat mengalami stres, infeksi, cedera atau penyakit. Kalori Protein (KKP) merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi yang paling serius. KKP terjadi pada bayi akibat tidak adekuatnya masa menyusui ataupun masa menyapih. KKP relatif sering ditemukan di negara-negara berkembang; di negara maju, bentuk KKP yang lebih ringan ditemukan pada keluarga misikin.
b.      Gizi lebih
Obesitas adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh. Obesitaspun merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Gizi lebih (over weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik dengan obesitas
Penyebab:
·         Perilaku makan yang berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan
·         Aktifitas fisik yang rendah
·         Gangguan psikologis (bisa sebagai sebab atau akibat)
·         Laju pertumbuhan yang sangat cepat
·         Genetik atau faktor keturunan
·         Gangguan hormon
Obesitas dapat menimbulkan penyakit yaitu :
·         DM
·         Stroke
·         Hypertensi
·         Serangan jantung
·         Gagal jantung

2.6  Upaya Untuk Mengatasi Masalah Pangan dan Gizi
·         Pengembangan sumber daya manusia di bidang pangan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, terutama usaha kecil;
·         Mendorong dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kemampuan usaha kecil, penyuluhan di bidang pangan, serta penganekaragaman pangan;
·         Mendorong dan mengarahkan peran serta asosiasi dan organisasi profesi di bidang pangan;
·         Mendorong dan menunjang kegiatan penelitian dan atau pengembangan teknologi di bidang pangan;
·         Penyebarluasan pengetahuan dan penyuluhan di bidang pangan dan gizi;
·         Pembinaan kerja sama internasional di bidang pangan, sesuai dengan kepentingan nasional;
·         Mendorong dan meningkatkan kegiatan penganekaragaman pangan yang dikonsumsi masyarakat serta pemantapan mutu pangan tradisional.



BAB III
PENUTUP

3.1.      Kesimpulan
Fungsi pangan yang utama bagi manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan bobot tubuh. Fungsi pangan yang demikian dikenal dengan istilah fungsi primer (primary function).Selain memiliki fungsi primer, bahan pangan sebaiknya juga memenuhi fungsi sekunder (secondary function), yaitu memiliki penampakan dan cita rasa yang baik. Sedangkan fungsi zat gizi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

  1. Zat penghasil 
  2. energi atau tenaga,

2.      Zat pembangun dan pemelihara sel dan jaringan tubuh,
3.      Zat pengatur proses tubuh.
Usaha mencukupi kebutuhan pangan dan gizi memerlukan langkah­langkah yang menyeluruh dan merupakan bagian dari kebulatan kebi­jaksanaan dan langkah pembangunan nasional. Oleh karena itu penanganannya memerlukan usaha terpadu dari berbagai bidang terutama bidang kesehatan, pertanian, industri, pendidikan, penerangan, perdagangan, kependudukan dan lingkungan hidup.
Aspek psikologis akan banyak mempengaruhi untuk dapat memilih bahan makanan secara bijaksana sesuai dengan tingkat ekonomi masing-masing da pemanfaatan jenis bahan makanan bermutu yang ada di sekelilingnya. Suatu tingkat kesadaran dan pengetahuan gizi yang mencukupi diperlukan oleh masyarakat. Untuk kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah, pengetahuan gizi dasar dan keterampilan memilih bahan makanan murah namun cukup bermutu dan bagaimana mengkombinasikan bahan-bahan tersebut sehingga dapat mencapai nilai gizi yang optimum sangat diperlukan. Untuk kelompok masyarakat yang berpendapatan cukup tinggi, pengetahuan gizi juga mutlak diperlukan untuk mencegah kurang gizi karena salah pilih atau penggunaan yang berlebihan dari salah satu zat gizi yang digemari.


 DAFTAR PUSTAKA 
Achadi, Endang, L.. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat (Edisi Revisi). PT RajaGrafindo Persada : Jakarta
Almatsier, Sunita. 2010. Prinsi-Prinsip Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta. 
Ariani, Mewa. Diversifikasi Konsumsi Pangan di Indonesia : Antara Harapan
            dan Kenyataan.
Azwar, Azrul, 2002. Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). Jakarta
Kertasapoetra, G. dan Marsetyo, H. 2003. ILMU GIZI (Korelasi, Kesehatan, dan
Produksi Kerja). PT Rineka Cipta: Jakarta 
Moehji, Sjahmien, 2003. Ilmu Gizi (Penetahuan Dasar Ilmu Gizi). Papas Sinar
Sinanti: Jakarta. 
Nyoman, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Buku Kedokteran: Jakarta.
Roedjito, djiteng, 1987. Perencanaan Gizi.  PT. Media Sarana Presss: Jakarta
Suhardjo, 1996. Perencanaan Pangan dan Gizi. Bumi Aksara: Jakarta
Yuniastuti, Ari. 2008. Gizi dan Kesehatan. Graha Ilmu: Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar